Membahas tentang indonesia mulai dari wisata, gunung, sejarah, kebudayaan, kesehatan tentang ramuan tradisional dan pengetahuan umum tentang indonesia lengkap seperti lagu daerah dan lagu nasional indonesia dan pengetahuan lainya.

Tampilkan postingan dengan label Soe Hok Gie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soe Hok Gie. Tampilkan semua postingan

JUDUL SOE HOK-GIE..SEKALI LAGI

Tanggal 16 Desember 1969 bangsa Indonesia telah kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, cerdas dan juga berani mengambil sikap , baik dalam pemikiranya maupun dalam pergerakanya. Sosok So Hok-gie yang akarab dipanggil Gie menghembuskan nafas terahir di atas puncak Mahameru Gunung Semeru 3676 MDPL .

Meskipun sudah 47 tahun lamanya berselang, namun nama dan kiprah Gie masih akan terus dikenang hingga kini. Kala itu  Beberapa tahun setelah kematiannya, namanya sempat akan terlupakan hingga pada akhirnya LP3ES yang saat itu masih merupakan LSM kecil menerbitkan buku berjudul catatan harian Gie yang berjudul “Catatan Seorang Demonstran” pada tahun 1983.

GAMBAR JUDUL SOE HOK-GIE..SEKALI LAGI

Dengan terbitnya buku “Catatan Seorang Demonstran” tersebut maka perlahan kembali mengingatkan orang pada tsosok pemuda idealis bernama Gie. Tak hanya sekedar itu, bahkan buku tersebut disebut menginspirasi dan juga mengangkat moril gerakan mahasiswa indonesia pada tahun 80-an yang sedang terpuruk.

Soe Hok Gie tak hanya memberi inspirasi anak muda indonesia , ketika ia masih hidup, dua puluh tahun setelah kematiannyapun Gie masih mampu memberi inpirasi baru pada gerakan mahasiswa pada saat itu. Hingga Setelah itu seiring dengan berjalannya waktu, nama Soe Hok Gie kembali terlupakan dan hingga akhirnya di tahun 90an tulisan-tulisan Gie yang pernah dipublikasikan di harian-harian nasional dibukukan kembali oleh penerbit Bentang Budaya dengan judul “Zaman Peralihan” (1995), kemudian disusul dengan skripsi S1 nya yang berjudul “Orang-orang di persimpangan kiri Jalan” (1997).

Pada tahun 2001 munculah terjemahan biografi politik SHG yang berjudul " SOE HOK-GIE" : Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani karya sejarahwan Australia, John Maxwell. Setelah beberapa buku tentang Soe Hok Gie diterbitkan, di tahun 2005 sutradara kondang Riri Reza pun membuat film berjudul Gie yang diambil dari kisah catatan hariannya.

Memperingati 40 tahun kematian SOE HOK GIE di bulan Desember 2009 yang lalu, kawan2 dekat so Hok-Gie menerbitkan buku tentang Gie yang berisi kumpulan tulisan - tulisan dari teman, sahabat, hingga tokoh-tokoh terkenalindonesia. Dan sekali lagi terbitlah buku ber judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi”. Buku tersebut seolah ingin menegaskan bahwa inilah buku kesekian kalinya mengenai Soe Hok-Gie yang pernah diterbitkan dan tak akan pernah bosan kisahnya untuk diulas dan ditulis kembali.

Buku ini tak kalah menariknya dengan karya – karya sebelumnya yang pernah terbit . Buku ber judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi” memiliki keunikan tersendiri. Jika buku - buku sebelumnya pembaca mengenal sosok Gie dari catatan - catatan harian, tulisan-tulisannya, dan juga pandangan John Maxwell, maka di buku ini pembaca bisa melihat sosok Gie dari pandangan sahabat-sahabat terdekatnya dan juga dari orang-orang yang mengaku terpengaruh dan terinspirasi spirit dan semangat perjuangan Gie baik semasa hidupnya ataupun setelah membaca tulisan-tulisan buku Soe Hok Gie.

JUDUL BUKU SOE HOK-GIE SEKALI LAGI

GAMBAR BUKU JUDUL SOE HOK-GIE SEKALI LAGI
SOE HOK GIE SEKALI LAGI
Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudi Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan
Penerbit : KPG bekerjasama dengan ILUNI UI & Kompas
Cetakan : Desember 2009
Tebal : 512 hlm

Sebelum Anda membaca detail isi bukunya, ada baiknya baca dulu review buku berjudul Soe Hok-Gie Sekali Lagi tersebut.

Buku ber judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi” di bagian pertama berisi satu tulisan panjang Rudy Badil, salah satu rombongan Gie ke puncak Semeru yang secara rinci menceritakan perjalanan pendakianya bersama Gie mulai berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta hingga proses evakuasi jenazah Gie dan Idham dari puncak Mahameru gunung semeru ke Gubuk Klakah, sebuah desa di kaki gunung Semeru.

Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik karena selama ini belum pernah terungkap secara mendetail bagaimana saat-saat terakhir hidup Gie di gunung semeru, tentang bagaimana keadaan dan kondisi jenasah Gie dan Idham setelah berhari-hari terlantar di puncak Mahameru, dan bagaimana kondisi fisik dan mental teman-teman seperjalanannya dalam mencari bantuan dan mengevakuasi jenasah Gie dan juga Idham.

Di bagian kedua buku ini , mengisahkan bagaimana reaksi masyarakat dan pers dari dalam dan juga luar negeri yang begitu responsif dan antusias untuk meliput tatkala mendengar kematian Soe Hok Gie hingga Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang saat itu telah menjadi menteri menyempatkan diri untuk melayat jenasah Gie dan memberikan kata sambutannya di FS-UI. Selain itu bagian ini juga menyajikan berbagai hal menarik seperti bagaimana puluhan tahun setelah kematian Gie namanya disangkut pautkan dengan peta harta karun peninggalan Jepang yang konon saat itu sedang diterjemahkan oleh Gie dan secara tidak sengaja ditemukan oleh oleh tim SAR saat sedang mengavakuasi jenazah Gie.

Selain itu di bagian ini terungkap pula hal-hal yang menyangkut gunung Semeru seperti temuan Arca Kembar yang selama ini dianggap hilang, lalu ada juga tulisan tentang serba serbi Semeru yang tentunya bermanfaat bagi para pendaki gunung.

Bagian ketiga buku ini yang berisi tulisan-tulisan dari teman-teman Gie di FS-UI tak kalah menariknya. Di bagian ini kita akan melihat sosok manusiawi Gie secara apa adanya. Sisi lain Gie dalam kesehariannya sebagai seorang mahasiswa terungkap di tulisan Kartini Sjahrir dan Luki Sutirsno Bekti yang secara jujur menceritakan pengalamannya berteman dekat dengan Gie.

Menurut pengakuan Kartini, seperti anak muda pada umumnya dalam pergaulannya tak jarang Gie mengeluarkan celetukannya yang suka ‘menyerempet-nyerempet bawah puser. Dalam tulisannya ini Kartini juga secara terbuka menceritakan perasaan hatinya dan kedekatannya dengan Gie sebelum akhirnya menikah dengan Syahrir. Bahkan di setiap surat terbukanya, Kartini selalu memulainya dengan “Hok Gie-ku yang manis...”

Luki Sutirsno-Bekti sebagai salah satu teman wanita Gie yang juga pernah dekat dengannya mengungkapkan Gie sebagai sosok yang moralis dan humanis, selain itu Gie juga merupakan teman curhat yang baik bagi teman-teman pria maupun wanitanya. Ia juga dikenal suka membantu teman-temannya dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Luki juga mengulas hubungan kakak beradik Hok-gie dan Arief Budiman yang unik.

Selain itu di bab ketiga buku ini ada juga tulisan teman-teman lainnya yang melihat Gie dari berbagai sudut pandang , semuanya menggambarkan bagaimana hangatnya, lekatnya, dan akrabnya pertemanan mereka dengan Hok Gie secara jujur dan apa adanya.

Di Bagian ke empat, buku ini menyuguhkan berbagai tulisan dari para penulis yang tidak mengenal Hok-Gie secara fisik namun mereka mengenalnya lewat pemikiran-pemikiran Gie melalui tulisan-tulisannya seperti Riri Reza, Nicholas Saputra, Hilmad Farid, N. Riantiarno, Stanley Adi Prasetyo, Mona Lohanda, Ben Anderson, dll.

Di bagian ini juga Arif Santoso, aktivis mahasiswa 80-an mengetengahkan catatan mengenai gerakan aktivis 1980-an yang tersulut oleh terbitnya Catatan Harian Seorang Demonstran di tahun 1978. Arif juga menceritakan secara kronologis gerakan 1980-an sehingga pembaca akan mengetahui bagaimana para aktivis 1980an berjuang melawan rezim orde baru yang saat itu begitu intens meredam setiap gerakan mahasiswa.

Stanley Adi Prasetro dalam tulisan panjangnya di buku ini mencoba membaca pikiran HAM Soe Hok-gie. Dari tulisannya ini Stanley mengatakan bahwa Gie merupakan pejuang sejati HAM yang berpikir melebihi zamannya. Di tulisan ini akan terungkap walaupun Gie begitu membenci komunisme, namun ketika pemerintah membabat habis orang-orang PKI secara membabi buta, Gie mengutuk keras peristiwa ini.

Lalu ada juga tulisan Lona Mohanda, sejarahwan, yang mencoba menguliti skripsi Hok-gie yang pada akhirnya mengaminkan apa yang dikatakan oleh almarhum Prof Harsya W. Bachtiar yang berpendapat bahwa soe Hok-gie itu seorang kolumnis yang baik, tapi tidak sebagai sejarahwan.

Di bagian kelima yang merupakan bagian terakhir dari buku ini diketengahkan tujuh belas tulisan Gie yang tersebar di berbagai media baik tulisan mengenai pendakian gunung, hingga persoalan-persoalan politik yang terjadi pada masa itu.

Menarik memang membaca keselurahan tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku ini. Buku yang ditulis oleh 30 orang ini memberikan gambaran yang wutuh akan sosok Gie yang sebelumnya hanya kita kenal lewat catatan hariannya atau tulisan-tulisannya saja.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai orang maka masing-masing memiliki keunikan sendiri, semuanya menarik, hanya saja di bagian ke empat dimana semuanya ditulis oleh orang-orang yang hanya mengenal Gie melalui tulisan-tulisannya maka terdapat beberapa kesamaan pandangan sehingga agak membosankan.

Selain berbagai tulisan tentang Gie, yang tak kalah menariknya adalah dimuatnya puluhan foto2 yang selama ini jarang atau mungkin belum pernah terpublikasikan. Kemasan buku ini juga tak kalah menariknya, walau bukunya besar dan gemuk namun sangat nyaman digenggam saat dibaca. Pilihan font yang besar dan lay out antara teks dan foto yang dinamis membuat buku ini sangat ramah mata dan membuat betah membacanya berlama-lama.

Dan yang pasti munculnya kembali buku “Soe Hok-Gie Sekali Lagi” ini setidaknya mengangkat kembali sosok pribadi yang berintegritas dan memiliki komitmen yang teguh terhadap perjuangannya, hal yang langka ditemukan di INDONESIA masa kini.

Di tengah bangsa Indonesia kita yang tengah mengalami krisis kemanusiaan, keadilan, dan kepemimpinan, sosok Soe Hok Gie ini sangat tepat untuk diangkat kembali sehiingga generasi muda masa kini dapat belajar dari pribadi dan pemikiran Gie yang masih sangat relevan hingga kini.

Mungkinkah buku Soe Hok-Gie sekali lagi ini bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi para pejuang demokrasi dan penegak keadilan bangsa ini. Semoga saja, jayalah Indonesia, Cayo Indonesia.
Source : http://bukuygkubaca.blogspot.co.id/

Soe Hok Gie dari semeru kata mutiara hingga film

Soe Hok Gie dari semeru kata mutiara hingga film. Soe Hok Gie adalah inspirasi pemuda indonesia dan tak akan pernah habis kisahnya untuk ditulis ulang dan dibaca berkali - kali. Hok Gie merupakan aktivis kampus, Soe Hok Gie ini sosok mahasiswa yang sangat rajin belajar, tekun dan gemar baca buku-buku. Dalam keseharian Gie sebagai anak kampus, dia juga gemar melakukan aktifitas naik gunung. Sebagai lelaki normal Gie juga berpacaran layaknya kebanyakan mahasiswa.
Soe Hok Gie dari semeru kata mutiara hingga film
Soe Hok Gie dari semeru kata mutiara hingga film
Di dalam dunia perkuliahan Soe Hok Gie masuk dalam kategori mahasiswa Akademis dan juga Aktivis. Ia  mampu mengakomodir dan menyeimbangkan keduanya, aktivis kampus namun dia tekun belajar  untuk mengasah pola berpikir yang kritis.

Mahasiswa jenis Akademis dan Aktivis berprinsip bagaimana mungkin bisa tajam mengkritisi pemerintah kalau isi kepala kosong ilmu dan minim wawasan yang luas? Wawasan yang luas dan ilmu tentang kehidupan bukan hanya diperoleh di bangku kuliah saja, akan tetapi juga bisa dengan cara baca banyak buku dan  terjun langsug bersosialisasi dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat.

Pada tahun 1965 Soe Hok Gie mendirikan suatu organisasi di kalangan mahasiswa yaitu MAPALA ( Mahasiswa Pecinta Alam), nama organisasi MAPALA yang didirikan oleh So Hok Gie  ini pun sudah besar dan mungkin saja di setiap kampus di indonesia sudah mempunyai organisasi MAPALA.

Soe Hok Gie menerbitkan buku harianya yang berjudul "Catatan Seorang Demonstran" di tahun 1963 yang berisi opini dan juga pengalamannya terhadap aksi demokrasi, buku harianya pun menjadi inspirasi untuk sebuah film, pada tahun 2005 yang berjudul "GIE", Soe Hok Gie memang Pemuda indonesia yang sangat memiliki pemikiran-pemikiran bijak.

Lewat penggambaranya sebagai mahasiswa pada era orde lama, Membaca buku karya Hoe Gie ini dapat membawa kita untuk menyelami kehidupan rakyat Indonesia pada masa itu.

Dalam catatan pendakianya, pucak Mahameru gunung semeru adalah merupakan puncak terahir yang di daki Hok Gie, Dia meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 disebabkan karena menghirup asap beracun yang keluar dari puncak mahameru. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian jasadnya dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga jasadnya harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal ingin jasadnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan itulah akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Hok Gie memang pergi meninggalkan Kita di usia muda, namun akan tetapi ia akan tetap hidup di hati banyak orang hingga kini. Soe Hok Gie adalah contoh model ideal bagi setiap generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa untuk menilai diri mereka secara jujur. Apa yang telah mereka lakukan untuk bangsa ini.

Kata- kata mutiara, kata bijak Soe Hok Gie

  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi
  • Tapi sekarang aku berpikir, sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa?
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda
  • Makhluk kecil, kembalilah dari tiada menuju tiada. berbahagialah dalam ketiadaanmu
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia
  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan
  • Dunia itu seluas langkah kaki, Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah.Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu denganya
  • Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut
  • Realitas - realitas baru inilah yang menghadapi pemuda-pemuda Indonesia yang penuh dengan idealisme. Dia hanya punya dua pilihan. Yang pertama, tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala. “Dia pandai dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah
  • Ada pun yang ditempuh, semua jalan berakhir dengan frustrasi. Yang satu bagai merasa Don Kisot melawan kincir angin, yang lain merasa sebagai pilot yang tidak pernah terbang.

Film Soe Hok Gie ( Nicholas Saputra )

Film Gie disutradarai Riri Riza dan dirilis pada tahun 2005 ini mengisahkan tentang perjalanan hidup tokoh aktivis Soe Hok Gie.


Data lengkap tentang Film Gie  2015
  • Sutradara Riri Riza
  • Produser Mira Lesmana
  • Penulis  Riri Riza
Para Pemain Film Gie : Nicholas Saputra, Wulan Guritno, Indra Birowo, Lukman Sardi, Sita Nursanti, Thomas Nawilis, Jonathan Mulia, Christian Audy, Donny Alamsyah, Robby Tumewu, Tutie Kirana,  Gino Korompis,  Surya Saputra, Happy Salma.

Download file pdf Buku Soe Hok Gie
Download buku Soe Hok Gie
Buku Soe Hok Gie 
Silahkan Download Buku ebook Soe Hok Gie berjudul "dibawah lentera merah" sebanyak 73 halaman.
Demikian semoga bermanfaat , jika ada salah kata ataupun penulisan, Saya selaku admin blog ini mohon maaf yang sebesar - besarnya.