Membahas tentang indonesia mulai dari wisata, gunung, sejarah, kebudayaan, kesehatan tentang ramuan tradisional dan pengetahuan umum tentang indonesia lengkap seperti lagu daerah dan lagu nasional indonesia dan pengetahuan lainya.

Tampilkan postingan dengan label Referensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Referensi Buku. Tampilkan semua postingan

Pecinta alam wajib baca Cerita dari timur

Pecinta alam wajib baca Cerita dari timur . Kegiatan traveling maupun eksplorasi ahir-ahir ini begitu marak di tanah air. Banyak orang membawa dampak dari penjelajahan Mereka ke suatu area yang baru. Namun, biasanya dari mereka melakukan perjalanan cuma sebagai kesenangan pribadi tanpa didokumentasikan didalam wujud tulisan.

Sebenarnya menuliskan kisah perjalanan sangatlah penting agar orang lain ikut menikmati pengalaman yang kita rasakan. Seperti halnya buku Cerita dari Timur yang berkisah mengenai perjalanan ekspedisi untuk menelisik indahnya nirwana di timur Indonesia. Tim ekspedisi ini terdiri atas muda-mudi pengagum alam dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Mapala Silvagama.


Buku Cerita Dari Timur menceritakan perjalanan mereka di 51 Taman Nasional di Indonesia yang diwakili empat kisah penjelajahan, yaitu Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Sulawesi Selatan, Taman Nasional Lore-Lindu di Sulawesi Tengah, Taman Nasional Aketajawe-Lolobata di Halmahera, Maluku Utara, dan Taman Nasional Wasur di Merauke, Papua.

Cerita Dari Timur mengangkat tema penjelajahan yang dipadu dengan usaha konservasi yang dilakukanya. Dapat diartikan, ekspedisi dari timur memiliki tujuan menyadarkan khalayak tentang pentingnya menjaga dan juga melestarikan potensi alam yang tersedia terutama di tiap-tiap Taman Nasional.

Cerita dari timur banyak menyuguhkan banyak cerita menarik yang di antaranya mengenai pengalaman tim ekspedisi laksanakan pemanjatan tebing di TN Aketajawe-Lolobata, menyaksikan surga kupu-kupu di TN Bantimurung-Bulusaraung, menemukan permata hijau Sulawesi di TN Lore-Lindu, hingga ikut berburu bersama dengan suku pedalaman Papua di TN Wasur.


Judul Buku : Cerita Dari Timur
Menelisik Nirwana di Timur Nusantara
Peresensi: Sundah Bagus Wicaksono
Judul: Cerita Dari Timur
Penulis: Indra Hermawan, Novitasari Ratna D, Okti Fathoni P dan Dyah Ratna WA
Penerbit: Gadjah Mada University Press
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: 246 halaman

Masih banyak cerita yang dibagikan tim ekspedisi, tak cuma mengenai keindahan tapi terhitung masalah-masalah yang dihadapi di tiap-tiap Taman Nasional.

“Berbekal ilmu yang didapat dari kajian ilmu konservasi kehutanan, disempurnakan penguasaan keterampilan petualangan di alam bebas, anak-anak muda ini mendengarkan bagaimana peristiwa dituturkan sambil merekam pengamatan dan juga kisah mereka,” ucap sang penulis.

Artikel terkait Ditimur Matahari Film Indonesia terbaik yang pernah dibuat 

Bagi Kalian para pecinta alam, pemanja alam, dan traveler buku " Cerita Dari Timur " terlalu cocok menjadi bahan referensi agar ilmu mengenai pariwisata, petualangan, dan yang berhubungan bersama dengan alam bertambah. Suguhan dokumentasi berbentuk foto-foto dan ilustrasi gambar cerita dari alam dapat meningkatkan kenikmatan pembaca melahap buku tersebut.

Membaca Cerita Dari Timur membangkitkan imajinasi kita mengenai serunya penjelajahan. Buku Cerita daritimur sangat direferensikan untuk Kalian yang mengaku Pecinta alam. Demikian semoga bermanfaat. Salam lestari #cayoindonesia.


JUDUL SOE HOK-GIE..SEKALI LAGI

Tanggal 16 Desember 1969 bangsa Indonesia telah kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, cerdas dan juga berani mengambil sikap , baik dalam pemikiranya maupun dalam pergerakanya. Sosok So Hok-gie yang akarab dipanggil Gie menghembuskan nafas terahir di atas puncak Mahameru Gunung Semeru 3676 MDPL .

Meskipun sudah 47 tahun lamanya berselang, namun nama dan kiprah Gie masih akan terus dikenang hingga kini. Kala itu  Beberapa tahun setelah kematiannya, namanya sempat akan terlupakan hingga pada akhirnya LP3ES yang saat itu masih merupakan LSM kecil menerbitkan buku berjudul catatan harian Gie yang berjudul “Catatan Seorang Demonstran” pada tahun 1983.

GAMBAR JUDUL SOE HOK-GIE..SEKALI LAGI

Dengan terbitnya buku “Catatan Seorang Demonstran” tersebut maka perlahan kembali mengingatkan orang pada tsosok pemuda idealis bernama Gie. Tak hanya sekedar itu, bahkan buku tersebut disebut menginspirasi dan juga mengangkat moril gerakan mahasiswa indonesia pada tahun 80-an yang sedang terpuruk.

Soe Hok Gie tak hanya memberi inspirasi anak muda indonesia , ketika ia masih hidup, dua puluh tahun setelah kematiannyapun Gie masih mampu memberi inpirasi baru pada gerakan mahasiswa pada saat itu. Hingga Setelah itu seiring dengan berjalannya waktu, nama Soe Hok Gie kembali terlupakan dan hingga akhirnya di tahun 90an tulisan-tulisan Gie yang pernah dipublikasikan di harian-harian nasional dibukukan kembali oleh penerbit Bentang Budaya dengan judul “Zaman Peralihan” (1995), kemudian disusul dengan skripsi S1 nya yang berjudul “Orang-orang di persimpangan kiri Jalan” (1997).

Pada tahun 2001 munculah terjemahan biografi politik SHG yang berjudul " SOE HOK-GIE" : Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani karya sejarahwan Australia, John Maxwell. Setelah beberapa buku tentang Soe Hok Gie diterbitkan, di tahun 2005 sutradara kondang Riri Reza pun membuat film berjudul Gie yang diambil dari kisah catatan hariannya.

Memperingati 40 tahun kematian SOE HOK GIE di bulan Desember 2009 yang lalu, kawan2 dekat so Hok-Gie menerbitkan buku tentang Gie yang berisi kumpulan tulisan - tulisan dari teman, sahabat, hingga tokoh-tokoh terkenalindonesia. Dan sekali lagi terbitlah buku ber judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi”. Buku tersebut seolah ingin menegaskan bahwa inilah buku kesekian kalinya mengenai Soe Hok-Gie yang pernah diterbitkan dan tak akan pernah bosan kisahnya untuk diulas dan ditulis kembali.

Buku ini tak kalah menariknya dengan karya – karya sebelumnya yang pernah terbit . Buku ber judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi” memiliki keunikan tersendiri. Jika buku - buku sebelumnya pembaca mengenal sosok Gie dari catatan - catatan harian, tulisan-tulisannya, dan juga pandangan John Maxwell, maka di buku ini pembaca bisa melihat sosok Gie dari pandangan sahabat-sahabat terdekatnya dan juga dari orang-orang yang mengaku terpengaruh dan terinspirasi spirit dan semangat perjuangan Gie baik semasa hidupnya ataupun setelah membaca tulisan-tulisan buku Soe Hok Gie.

JUDUL BUKU SOE HOK-GIE SEKALI LAGI

GAMBAR BUKU JUDUL SOE HOK-GIE SEKALI LAGI
SOE HOK GIE SEKALI LAGI
Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudi Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan
Penerbit : KPG bekerjasama dengan ILUNI UI & Kompas
Cetakan : Desember 2009
Tebal : 512 hlm

Sebelum Anda membaca detail isi bukunya, ada baiknya baca dulu review buku berjudul Soe Hok-Gie Sekali Lagi tersebut.

Buku ber judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi” di bagian pertama berisi satu tulisan panjang Rudy Badil, salah satu rombongan Gie ke puncak Semeru yang secara rinci menceritakan perjalanan pendakianya bersama Gie mulai berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta hingga proses evakuasi jenazah Gie dan Idham dari puncak Mahameru gunung semeru ke Gubuk Klakah, sebuah desa di kaki gunung Semeru.

Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik karena selama ini belum pernah terungkap secara mendetail bagaimana saat-saat terakhir hidup Gie di gunung semeru, tentang bagaimana keadaan dan kondisi jenasah Gie dan Idham setelah berhari-hari terlantar di puncak Mahameru, dan bagaimana kondisi fisik dan mental teman-teman seperjalanannya dalam mencari bantuan dan mengevakuasi jenasah Gie dan juga Idham.

Di bagian kedua buku ini , mengisahkan bagaimana reaksi masyarakat dan pers dari dalam dan juga luar negeri yang begitu responsif dan antusias untuk meliput tatkala mendengar kematian Soe Hok Gie hingga Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang saat itu telah menjadi menteri menyempatkan diri untuk melayat jenasah Gie dan memberikan kata sambutannya di FS-UI. Selain itu bagian ini juga menyajikan berbagai hal menarik seperti bagaimana puluhan tahun setelah kematian Gie namanya disangkut pautkan dengan peta harta karun peninggalan Jepang yang konon saat itu sedang diterjemahkan oleh Gie dan secara tidak sengaja ditemukan oleh oleh tim SAR saat sedang mengavakuasi jenazah Gie.

Selain itu di bagian ini terungkap pula hal-hal yang menyangkut gunung Semeru seperti temuan Arca Kembar yang selama ini dianggap hilang, lalu ada juga tulisan tentang serba serbi Semeru yang tentunya bermanfaat bagi para pendaki gunung.

Bagian ketiga buku ini yang berisi tulisan-tulisan dari teman-teman Gie di FS-UI tak kalah menariknya. Di bagian ini kita akan melihat sosok manusiawi Gie secara apa adanya. Sisi lain Gie dalam kesehariannya sebagai seorang mahasiswa terungkap di tulisan Kartini Sjahrir dan Luki Sutirsno Bekti yang secara jujur menceritakan pengalamannya berteman dekat dengan Gie.

Menurut pengakuan Kartini, seperti anak muda pada umumnya dalam pergaulannya tak jarang Gie mengeluarkan celetukannya yang suka ‘menyerempet-nyerempet bawah puser. Dalam tulisannya ini Kartini juga secara terbuka menceritakan perasaan hatinya dan kedekatannya dengan Gie sebelum akhirnya menikah dengan Syahrir. Bahkan di setiap surat terbukanya, Kartini selalu memulainya dengan “Hok Gie-ku yang manis...”

Luki Sutirsno-Bekti sebagai salah satu teman wanita Gie yang juga pernah dekat dengannya mengungkapkan Gie sebagai sosok yang moralis dan humanis, selain itu Gie juga merupakan teman curhat yang baik bagi teman-teman pria maupun wanitanya. Ia juga dikenal suka membantu teman-temannya dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Luki juga mengulas hubungan kakak beradik Hok-gie dan Arief Budiman yang unik.

Selain itu di bab ketiga buku ini ada juga tulisan teman-teman lainnya yang melihat Gie dari berbagai sudut pandang , semuanya menggambarkan bagaimana hangatnya, lekatnya, dan akrabnya pertemanan mereka dengan Hok Gie secara jujur dan apa adanya.

Di Bagian ke empat, buku ini menyuguhkan berbagai tulisan dari para penulis yang tidak mengenal Hok-Gie secara fisik namun mereka mengenalnya lewat pemikiran-pemikiran Gie melalui tulisan-tulisannya seperti Riri Reza, Nicholas Saputra, Hilmad Farid, N. Riantiarno, Stanley Adi Prasetyo, Mona Lohanda, Ben Anderson, dll.

Di bagian ini juga Arif Santoso, aktivis mahasiswa 80-an mengetengahkan catatan mengenai gerakan aktivis 1980-an yang tersulut oleh terbitnya Catatan Harian Seorang Demonstran di tahun 1978. Arif juga menceritakan secara kronologis gerakan 1980-an sehingga pembaca akan mengetahui bagaimana para aktivis 1980an berjuang melawan rezim orde baru yang saat itu begitu intens meredam setiap gerakan mahasiswa.

Stanley Adi Prasetro dalam tulisan panjangnya di buku ini mencoba membaca pikiran HAM Soe Hok-gie. Dari tulisannya ini Stanley mengatakan bahwa Gie merupakan pejuang sejati HAM yang berpikir melebihi zamannya. Di tulisan ini akan terungkap walaupun Gie begitu membenci komunisme, namun ketika pemerintah membabat habis orang-orang PKI secara membabi buta, Gie mengutuk keras peristiwa ini.

Lalu ada juga tulisan Lona Mohanda, sejarahwan, yang mencoba menguliti skripsi Hok-gie yang pada akhirnya mengaminkan apa yang dikatakan oleh almarhum Prof Harsya W. Bachtiar yang berpendapat bahwa soe Hok-gie itu seorang kolumnis yang baik, tapi tidak sebagai sejarahwan.

Di bagian kelima yang merupakan bagian terakhir dari buku ini diketengahkan tujuh belas tulisan Gie yang tersebar di berbagai media baik tulisan mengenai pendakian gunung, hingga persoalan-persoalan politik yang terjadi pada masa itu.

Menarik memang membaca keselurahan tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku ini. Buku yang ditulis oleh 30 orang ini memberikan gambaran yang wutuh akan sosok Gie yang sebelumnya hanya kita kenal lewat catatan hariannya atau tulisan-tulisannya saja.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai orang maka masing-masing memiliki keunikan sendiri, semuanya menarik, hanya saja di bagian ke empat dimana semuanya ditulis oleh orang-orang yang hanya mengenal Gie melalui tulisan-tulisannya maka terdapat beberapa kesamaan pandangan sehingga agak membosankan.

Selain berbagai tulisan tentang Gie, yang tak kalah menariknya adalah dimuatnya puluhan foto2 yang selama ini jarang atau mungkin belum pernah terpublikasikan. Kemasan buku ini juga tak kalah menariknya, walau bukunya besar dan gemuk namun sangat nyaman digenggam saat dibaca. Pilihan font yang besar dan lay out antara teks dan foto yang dinamis membuat buku ini sangat ramah mata dan membuat betah membacanya berlama-lama.

Dan yang pasti munculnya kembali buku “Soe Hok-Gie Sekali Lagi” ini setidaknya mengangkat kembali sosok pribadi yang berintegritas dan memiliki komitmen yang teguh terhadap perjuangannya, hal yang langka ditemukan di INDONESIA masa kini.

Di tengah bangsa Indonesia kita yang tengah mengalami krisis kemanusiaan, keadilan, dan kepemimpinan, sosok Soe Hok Gie ini sangat tepat untuk diangkat kembali sehiingga generasi muda masa kini dapat belajar dari pribadi dan pemikiran Gie yang masih sangat relevan hingga kini.

Mungkinkah buku Soe Hok-Gie sekali lagi ini bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi para pejuang demokrasi dan penegak keadilan bangsa ini. Semoga saja, jayalah Indonesia, Cayo Indonesia.
Source : http://bukuygkubaca.blogspot.co.id/